Pola Konsumsi Makanan di Indonesia
Oleh: Astarani Wili Martha, S.Stat.Beras masih menjadi bahan pangan yang paling banyak dikonsumsi di Indonesia. Data BPS 2025 mencatat rata-rata konsumsi beras lokal atau ketan sebesar 1,510 kilogram per kapita per minggu. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding bahan pangan pokok lain seperti ketela pohon (0,105 kg), ketela rambat (0,068 kg), atau jagung. Untuk sumber protein hewani, ikan dan udang segar tercatat 0,370 kilogram per kapita per minggu, lebih tinggi dibanding daging ayam (0,158 kg) dan daging sapi (0,009 kg). Telur ayam tercatat sekitar 2,362 butir per kapita per minggu.
Beras Masih Paling Banyak Dikonsumsi
Konsumsi beras tetap dominan dibanding sumber karbohidrat lain. Data BPS menunjukkan selisih yang besar antara beras dan bahan seperti jagung atau ketela. Untuk protein nabati, konsumsi tahu mencapai 0,152 kilogram per kapita per minggu, sementara tempe 0,142 kilogram. Selisihnya kecil, sekitar 10 gram. Minyak goreng tercatat 0,255 liter per kapita per minggu, dan gula pasir sekitar 0,100 kilogram.
Di sisi pengeluaran, makanan dan minuman jadi menjadi kategori dengan nilai tertinggi di antara kelompok makanan. Data BPS Maret 2026 mencatat pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi sebesar Rp 277.302 per kapita sebulan. Angka ini lebih tinggi dibanding pengeluaran untuk padi-padian (Rp 92.141), ikan (Rp 63.533), atau sayur-sayuran (Rp 65.257). Tingkat partisipasi rumah tangga yang mengonsumsi makanan dan minuman jadi juga tinggi, mencapai 99,43 persen menurut data 2024.
Pengeluaran untuk Makanan Jadi Lebih Tinggi
Pola yang terlihat adalah konsumsi beras masih tinggi secara volume, sementara pengeluaran lebih banyak mengalir ke makanan dan minuman jadi. Ini berarti sebagian besar rumah tangga masih mengonsumsi beras sebagai bahan pokok, tetapi juga sering membeli makanan yang sudah jadi. Data partisipasi konsumsi menunjukkan hampir semua rumah tangga mengonsumsi makanan dan minuman jadi, hampir setara dengan tingkat partisipasi untuk padi-padian.
Perbedaan volume dan nilai juga terlihat pada protein. Ikan dan udang lebih banyak dikonsumsi secara volume dibanding daging sapi, tetapi daging sapi memiliki harga yang lebih tinggi. Data BPS menunjukkan konsumsi daging sapi hanya 0,009 kilogram per kapita per minggu, jauh di bawah ikan atau ayam. Pola ini sudah berlangsung dalam beberapa tahun, dengan konsumsi beras tetap berada di atas 1,5 kilogram per kapita per minggu.
Data Belum Memisahkan Jenis Makanan Jadi
Data BPS untuk konsumsi bahan makanan berasal dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Angka yang tercatat adalah rata-rata per kapita, sehingga tidak merinci perbedaan antar kelompok pendapatan atau wilayah secara detail dalam rilis yang umum tersedia. Data pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi juga mencakup berbagai jenis, dari makanan gorengan hingga makanan restoran, tanpa pemisahan yang lebih rinci.
Perbandingan antarprovinsi tersedia dalam publikasi lengkap, tetapi tidak selalu muncul dalam ringkasan. Data yang ada juga belum memisahkan konsumsi di rumah dengan konsumsi di luar rumah secara konsisten di semua periode. Selain itu, data volume konsumsi dan data pengeluaran berasal dari modul yang sama, tetapi cara penghitungannya berbeda, sehingga perlu dilihat secara terpisah.
Konsumsi beras masih tercatat paling tinggi secara volume. Di sisi pengeluaran, makanan dan minuman jadi menjadi yang terbesar di antara kelompok makanan. Data yang tersedia menunjukkan pola yang konsisten, meskipun rincian jenis makanan jadi dan perbedaan antarwilayah masih terbatas.