Keamanan Data: Angka dan Pola yang Terlihat
Oleh: Astarani Wili Martha, S.Stat.Volume serangan siber di Indonesia tercatat tinggi. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat 5,5 miliar serangan siber sepanjang 2025. Angka ini naik 714 persen dibanding rata-rata tahunan periode 2020–2024. Dari Januari hingga 15 April 2026, tercatat lagi 1,52 miliar serangan. Angka ini mencakup percobaan pencurian data, penipuan online, dan akses tanpa izin. Tidak semua serangan berujung kebocoran data, tetapi volumenya besar.
Indonesia Tercatat Tinggi dalam Volume Serangan
Kaspersky mencatat Indonesia menyumbang 1,58 juta deteksi serangan backdoor di Asia Tenggara sepanjang 2025, tertinggi di kawasan itu. Vietnam menyusul dengan 1,29 juta deteksi. Thailand, Malaysia, Singapura, dan Filipina jauh lebih rendah. Secara keseluruhan, Asia Tenggara mengalami kenaikan serangan backdoor sebesar 17 persen dibanding tahun sebelumnya. Indonesia juga tercatat sebagai sumber serangan DDoS terbesar di dunia menurut laporan Cloudflare, dan posisi itu bertahan selama setahun penuh.
Di tingkat global, IBM mencatat rata-rata biaya kebocoran data mencapai 4,99 juta dolar AS. Angka ini naik 12 persen dari periode sebelumnya. Di Amerika Serikat, biayanya lebih tinggi, mencapai 11,5 juta dolar AS. Healthcare menjadi sektor dengan biaya tertinggi, yaitu 6,64 juta dolar AS, diikuti jasa keuangan sebesar 6,29 juta dolar AS. Manufacturing menjadi sektor yang paling banyak diserang menurut IBM X-Force, dengan porsi 27,7 persen dari seluruh insiden yang ditangani.
Sektor Keuangan dan Healthcare Lebih Sering Jadi Target
Di Indonesia, sektor yang sering disorot dalam laporan adalah pemerintahan, keuangan, energi, telekomunikasi, dan kesehatan. Kaspersky mencatat bahwa serangan backdoor di Asia Tenggara lebih banyak terjadi di perangkat bisnis. Cloudflare juga menempatkan Indonesia di posisi teratas sebagai sumber serangan DDoS, bukan hanya sebagai target. Ini menunjukkan bahwa perangkat di Indonesia banyak dipakai sebagai bagian dari botnet, selain menjadi sasaran langsung.
Di tingkat global, Verizon mencatat bahwa motif keuangan masih dominan dalam kebocoran data, tetapi motif espionage juga naik. Manufacturing mengalami kenaikan tajam dalam kasus yang berkaitan dengan espionage. Healthcare dan jasa keuangan tetap masuk dalam daftar sektor dengan frekuensi insiden tinggi. Data dari IBM menunjukkan bahwa manufacturing sudah menjadi sektor paling banyak diserang selama lima tahun berturut-turut.
Volume Tinggi Belum Selalu Berarti Kebocoran Besar
Angka 5,5 miliar serangan dari BSSN terlihat besar, tetapi tidak semua serangan berhasil menembus sistem atau mencuri data. BSSN sendiri mencatat bahwa monitoring mereka hanya mencakup kurang dari 10 persen lalu lintas internet nasional. Artinya, angka yang tercatat kemungkinan masih di bawah volume sebenarnya. Di sisi lain, biaya kebocoran data di global tetap tinggi, terutama di healthcare dan jasa keuangan.
Pola yang terlihat adalah volume serangan tinggi di Indonesia, sementara dampak finansial lebih banyak tercatat di laporan global. Indonesia juga muncul sebagai sumber serangan DDoS, yang berarti banyak perangkat di dalam negeri dipakai untuk menyerang pihak lain. Peringkat National Cyber Security Index Indonesia turun ke posisi 84 dari 136 negara, dengan skor 47,50. Singapura berada di posisi jauh lebih tinggi.
Data Belum Selalu Bisa Dibandingkan Langsung
Sumber data berbeda-beda. BSSN menghitung anomali lalu lintas, Kaspersky menghitung deteksi malware dan backdoor, Cloudflare menghitung serangan DDoS yang melewati jaringannya, sementara IBM menghitung biaya dari kasus kebocoran yang sudah terjadi. Definisi dan metode penghitungan tidak sama, sehingga angka dari satu laporan tidak bisa langsung dibandingkan dengan laporan lain.
Data kedalaman dampak di Indonesia juga masih terbatas. Banyak laporan mencatat volume serangan, tetapi sedikit yang merinci berapa banyak yang benar-benar berhasil mencuri data pribadi atau berapa besar kerugian finansialnya. Laporan global seperti IBM dan Verizon lebih banyak mencakup organisasi besar di negara maju. Kondisi di usaha kecil dan menengah di Indonesia belum banyak tercakup dalam data yang tersedia.
Volume serangan siber di Indonesia tercatat tinggi, baik sebagai target maupun sebagai sumber. Biaya kebocoran data di tingkat global tetap besar, terutama di sektor healthcare dan keuangan. Data yang ada menunjukkan bahwa volume serangan dan dampak finansial tidak selalu bergerak seiring.
